Festival Malang Kembali (FMK) atau Malang Tempo Dulu diadakan untuk keempat kalinya, tanggal 21-24 mei 2009, di sepanjang jalan Ijen. Tema Festival Malang Kembali tahun ini adalah rekonstruksi jati diri, budayaku tanggung jawabku. Ada berbagai atraksi menarik yang disajikan oleh panitia, seperti drum band, arak arakan pengantin menggunakan mobil antik, pertunjukan ludruk, wayang kulit, dan lain-lain.
Penonton juga bisa bernostalgia dengan permainan jaman dulu seperti egrang dan gobak sodor. Dipamerkan juga sepeda dan mobil antik, serta cikar berukuran ekstra. Ada juga berbagai macam lomba, seperti lomba busana batik anak-anak, penonton berkostum terbaik, dan lomba fotografi.
Pengunjung juga bisa berbelanja kaos khas malang, baju batik, kebaya, blangkon, mainan jaman dulu, uang kuno, dan benda-benda antik. Jika lelah berkeliling, mereka bisa menyewa dokar dengan harga yang terjangkau. Atau anda bisa pula istirahat sejenak, duduk, dan mencicipi makanan dan minuman tradisional yang dijajakan oleh banyak stan. Anda bisa bernostalgia dengan mengkonsumsi makanan tradisional yang hampir punah, seperti cenil, es gandul tali merang, juwet, es sinom, gulali, dan lain-lain.
Namun sayang, ada beberapa stan yang malah menyajikan makanan modern yang tidak selaras dengan tema Malang Tempo Dulu. Ada stan yang menghidangkan martabak, gudeg jogja, serta roti maryam yang berasal dari Arab. Selain itu, jam buka FMK yang panjang (hampir 24 jam) membuat beberapa stan lalai dan kurang mengawasi kualitas produk. Ada beberapa pengunjung FMK yang mengeluh karena kehabisan roti maryam. Ada juga yang kecewa karena nasi goreng dan es dawet yang akan dikonsumsi sudah basi.
Selain itu, terlalu banyak stan di FMK yang berjualan makanan dan minuman, sehingga terkesan kurang bervariasi. Juga ada yang berjualan barang-barang modern yang tidak dapat ditemukan pada jaman dulu, seperti tas anyaman, patung ukiran kayu, dan kaos. Penjaga stan di FMK tidak semuanya berpakaian a la jaman dulu. Pedagang kaki lima, pengemis, dan pemulung bebas berkeliaran di arena FMK. Sehingga suasana FMK tak ubahnya seperti pasar minggu jalan Semeru.
Selain itu, kebersihan jalan juga kurang dijaga. Banyak sampah yang berserakan di arena FMK. Pengunjung juga harus berhati-hati melangkahkan kakinya, karena ada kotoran kuda yang berserakan di jalan. Sehingga bau tak sedap mengganggu kenyamanan pengunjung.
Ajang FMK juga hanya menjadi ajang narsis para pengunjung. Mereka asyik berfoto di depan foto diorama Malang Tempo Dulu dan arena sawah buatan. Kesenian tradisional seperti wayang dan ludruk juga baru ditampilkan menjelang senja, dan jumlahnya kurang banyak. Seakan-akan, misi kebudayaan yang diusung oleh panitia hanya menjadi “tempelan” untuk mendulang keuntungan yang perputaran uangnya mencapai milyaran rupiah per hari.
Bagaimanapun, kita harus mengapresiasi langkah Yayasan Inggil sebagai penggagas FMK, untuk melestarikan budaya bangsa yang hampir punah. Semoga FMK tahun depan lebih baik daripada tahun ini.
Kaitkata: fmk
Juni 25, 2009 pukul 4:05 am |
Acara-acara yang ada di FMK emang bagus sih. Tapi gimana bisa menikmati kalo pengunjungnya segitu ruamenya, ngga sebanding sama jumlah stannya. Blum lagi sampahnya, kalo kesana pagi2, baunya menyengat banget. Imej jalan Ijen yang asri, bersih, indah, jadi tercoreng.
Dari tahun ke tahun sama aja. Mungkin emang udah saatnya FMK ganti format, total.
Juni 25, 2009 pukul 8:05 am |
iya…jadi cuma acara dagang doang mbak
makasih kunjungannya